Oleh Hamsyari

Bahagia adalah suatu kebutuhan bahkan bagaikan tujuan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Kebahagiaan menjalani hidup di dunia dan di akhirat kelak. Namun, tidak semuanya dari kita dapat merasakan nikmat kebahagiaan yang sama, dewasa ini orang banyak menafsirkan bahagia itu harus mempunyai harta yang berlimpah ruah, rumah yang besar, mempunyai mobil dan sebagainya. Tetapi tidak sedikit juga dari kalangan yang miskin sudah merasa bahagia dengan kondisi yang tampaknya  sederhana saja bagi kaca mata orang kaya tetapi itu sangat membahagiakan.

Bagaimanakah kebahagiaan ala Rasulullah SAW saat menghadapi berbagai masalah dan ujian? Anas bin Malik ra. Menyampaikan cara Rasulullah saw mengatasi agar tidak bersangka buruk kepada Allah SWT dan tetap tenang saat melakukan sesuatu.

“Saya telah menjadi khadam Rasulullah SAW 10 tahun lamanya. Maka tidak pernah beliau berkata atas barang yang saya kerjakan, “mengapa engkau kerjakan?”. ‘mengapa tidak engkau kerjakan?  Tidak pernah pula beliau berkata pada barang yang tidak ada, “alangkah baiknya kalau barang itu ada”. Kalau pada suatu ketika terjadi perselisihan saya dengan ahlinya, dia berkata kepada ahlinya itu, “biarlah, sebab apa yang telah ditakdirkan Allah mesti terjadi.”

Memikirkan bunyi hadits yang diriwayatkan Anas itu, dapatlah dipikirkan pula apa artinya ridha, dapat diketahui hakikat dan dari mana timbulnya. Cobalah pikirkan hal ihwal Rasulullah itu. Dia sendiri, setelah sempurna makrifatnya dengan Tuhan Allah, tidaklah dia lupa bahwa Yang Maha Kuasa itu ialah Dia. Dia yang mentadbirkan, Dia yang menyusun, mengatur, dan alam ini terlingkung kita di dalamnya, berhaklah Dia bertaharruf, berbuat kesehendak hati-Nya di atas hak milik-Nya itu. (Hamka, 2015 : 303)

Nabi SAW. Penuh kepercayaan bahwa Tuhan bijaksana, tidaklah Dia menentukan satu keputusan di luar pertimbangan seadil-adilnya. Dia menyerah kepada-Nya, lebih daripada penyerahan budak kepada penghulu. Meskipun yang dijatuhkan atas dirinya, namun dia berubah tidak ; selangkah haram surut, setapak dia tidak kembali. Dia terima apa yang ada, tak mengaduh, tak merintih dan tak menyesal. Jika bukit teguh pada tempatnya, tiada bergoyang oleh bertumbuk angin dari segenap penjuru, maka keteguhan hati Rasulullah jika dihembus angin kehidupan, lebih dari teguhnya bukit, sebab jika gempa datang, bukit pun bergoyang juga.

Sebagai kesimpulan, manusia itu tidak boleh hidup tanpa mempunyai kepercayaan, mempercayai Tuhan yang dibesarkan dan dimuliakan, ditakuti dan ditumpahkan harapan kepada-Nya. Kalau dia tidak percaya kepada Allah dan tidak memuja kepada-Nya, nescaya dia akan memuja kepada selain Allah, disedari atau tidak. Siapa yang menyembah Allah, dia tidak akan memuja dan tiada akan tunduk kepada selain Allah. Degan demikian, kehidupannya sejalan dengan fitrah kemanusiaan, yang ditanamakan Tuhan dalam jiwanya. Oleh sebanb itu, dia memperoleh ketenangan dan ketenteraman dalam hidupnya. (Al-Qardawi, 2008 : 86)

Sumber:

Hamka (2015). Tasawuf Modern. Jakarta, Republika.

Al-Qardawi, Yusuf (2008). Iman dan Kehidupan. Selangor, Dewan Pustaka Fajar.

Bahagia Ala Rasulullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *