Aku jatuh cinta kepada dirinya. Oh, apa adanya. Mengapa seorang pemuda bisa jatuh cinta kepada seorang gadis? Atau sebaliknya, mengapa seorang gadis bisa mati-matian mencintai seorang pemuda? Dunia terasa sempit tanpa si dia. Hidup hampa dan tanpa makna. Mengapa bisa terjadi demikian?

Ini disebabkan oleh cinta. Mengapa seorang kekasih mencintai kekasihnya? Mengapa Asep jatuh cinta kepada Elis? Sederhananya, mengapa ada cinta di antara mereka?

Jawabannya karena ada rasa yang merona, ada suka yang tumbuh, ada simpati yang timbul di  dalam hati. Seperti halnya api dengan asap. Mengapa ada asap? Karena ada api yang menyala. Ada hal yang menyebabkan cinta itu tumbuh dan berkembang.

Ibnu Qayyim pernah mengatakan bahwa, “Cinta akan lenyap bersama lenyapnya sebab.” Ketertarikan dan rasa cinta antara seorang laki-laki dan perempuan, bisa hilang jika sebab-sebab yang bisa menumbuhkan rasa cinta itu hilang. Maka, Makhfum mukhalafah (makna kebalikan) dari kaidah ini adalah cinta bisa tumbuh karena ada sebab yang membuatnya jadi tumbuh.

Mengapa Jaka mencintai Mojang? Karena ada sebab yang menbuat Jaka jatuh cinta kepada Mojang. Ada asbab musabab yang menumbuhkan rasa cinta di hati Jaka. Pun demikian sebaliknya, Mojang mencintai Jaka, karena ada sebab yang membuatnya jatuh hati. Ada sebab yang membuat mereka jatuh cinta. Ada hal yang mebuat hati mereka terpaut dan saling mencintai satu sama lain.

Ada banyak sebab yang bisa membuat orang jatuh cinta. Misalnya, pernah melihat rupanya yang tampan atau cantic, terpesona oleh sikapnya yang baik, sopan santun dan ramah. Sering mendengar nama baiknya. Terpincut oleh karya-karyanya. Terpana dengan kepribadiannya. Sebab begini dan begitu. Sebab dan sebab. Dan masih banyak sebab yang lainnya. Sebab yang menumbuhkan rasa ketertarikan hati.

Mengapa kita mencintai Allah? Karena ada sebabnya Selain disebabkan oleh perintah-Nya yang ada pada QS. Ali ‘Imran (3) ayat 31 yang berbunyi:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan banyak yang menbuat kita (harus) mencintai-Nnya. Kita diberikan nikmat oleh Allah, nikmat yang tak terhingga banyaknya, tak terhitung jumlahnya, dimana disampaikan dalam QS. An-Nahl (16) ayat 18 yang berbunyi:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Masih banyak lagi seperti nikmat waktu, nikmat sehat, dan yang paling berharga adalah nikmat iman dalam dinul Islam.

Ini sebab yang menumbuhkan rasa cinta. Cinta kepada Allah adalah yang abadi, karena sebabnya juga abdi. Cinta kepada kekasih tidak akan abadi bila tidak disandarkan kepada yang Maha Abadi. Agar cinta kita abadi saling mencintai tak hanya sekedar di dunia saja, namun juga di akhirat yang abadi, maka harus disandarkan kepada Allah yang kekal dan abadi.

Ketika kita mencintai sesuatu, apapun yang ada di dunia ini, seperti pasangan, anak-anak dan harta kekayaan, semoga sebabnya abadi. Yakni cinta karena Allah yang harus jadi dasar untuk mencintai sesuatu. Niatkan cinta hanya karena-Nya Lillahi ta’ala.

Dalam mencintai niatkan pada-Nya.

Agar makna cinta tak tersia-sia.

Janganlah mencintai selain karena Allah.

Karena cinta pada-Nya itu mulia.

(Getaran Religius, “Hakikat Cinta”)

Bila cinta disandarkan kepada Allah, akan lahirlah cinta yang penuh makna. Cinta yang menggerakkan jiwa untuk berkarya nyata, untuk meraih prestasi dan menggapai ridha illahi. Cinta yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Cinta sejati diraih dengan menyandarkan sebab kepada Yang Maha Sejati. Cinta akan agung bila disandarkan kepada sebab yang Maha Agung. Kenapa ada asap, karena ada api yang menyala. Kenapa ada cinta, karena ada sebab yang menumbuhkan rasa cinta. Wallahu’alam.

Sumber: Al-Zanki, Jauhar. Agar Hati Tak Salah Mencintai.

Kenapa Ada Asap? Karena Ada Api

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *