Bagaimana Menghadapi Masalah?

Oleh: Ust. Bangun Samudra

Dalam kehidupannya menjalankan aktivitas sehari-hari, manusia kerap di hadapkan berbagai masalah. Masalah-masalah yang Allah datangkan untuk kita tidak lain adalah untuk menguji keimanan kita untuk tetap berada pada jalan yang benar. Hal tersebut Allah firmankan dalam QS. Al-Ankabut (69) ayat 2-3 yang berbunyi:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينََ

Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Lantas, ketika kita tengah dilanda musibah, apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim?

Mari kita simak apa saja yang harus kita lakukan ketika masalah datang menghampiri kita. Pertama, sabar dan mengucapkan istirja’. Istirja’ adalah sebuah kalimat pernyataan kembali kepada Allah.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit katakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (QS. Al-Baqarah (2) : 155-156). Kemudian, apakah kabar gembira itu? Kabar gembira itu adalah berupa pahala tanpa batas.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar (39) : 10).

Kedua, yakinkan diri bahwa Allah tidak memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah (2) : 286)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Artinya: Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (QS. At-Talaq (65) : 7).

Ketiga, muhassabah. Muhassabah artinya instropeksi diri. Sadarlah, bahwa segala kesalahan yang kita lakukan adalah dari diri kita sendiri. Segala kesalahan yang kita perbuat, ketika kita mohon ampun kepada-Nya, Ia akan memaafkan kita.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. Asy-Syura (42) : 30).

Keempat, senantiasa khusnudhon. Musibah yang menimpa seorang muslim adalah rahmat bagi muslim itu sendiri. Allah senantiasa akan menggugurkan segala dosa kita kala kita ditimpah musibah asalkan kita senantiasa bersyukur dan memohon ampun. Dari segala musibah yang kita terima, bukan seharusnya kita berburuk sangka kepada Allah karena, musibah inilah sarana Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Berbaik sangkalah kepada-Nya.

Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegunda-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya” (HR. Bukhari).

Jadi, janganlah sampai musibah yang menimpa kita membuat kita jauh dan berburuk sangka kepada Allah. Tapi, jadikanlah musibah sebagai sarana untuk kita lebih dekat kepada-Nya. Namun, janganlah ketika kita dapat musibah saja baru mendekat kepada-Nya. Dekatlah kepada-Nya di kala kita susah maupun senang.

Sumber: Majalah Al Falah Inspirasi Keluarga Peduli. Muhasabah Musibah. Edisi 369. Desember 2018.

Kenapa Ada Asap? Karena Ada Api

Aku jatuh cinta kepada dirinya. Oh, apa adanya. Mengapa seorang pemuda bisa jatuh cinta kepada seorang gadis? Atau sebaliknya, mengapa seorang gadis bisa mati-matian mencintai seorang pemuda? Dunia terasa sempit tanpa si dia. Hidup hampa dan tanpa makna. Mengapa bisa terjadi demikian?

Ini disebabkan oleh cinta. Mengapa seorang kekasih mencintai kekasihnya? Mengapa Asep jatuh cinta kepada Elis? Sederhananya, mengapa ada cinta di antara mereka?

Jawabannya karena ada rasa yang merona, ada suka yang tumbuh, ada simpati yang timbul di  dalam hati. Seperti halnya api dengan asap. Mengapa ada asap? Karena ada api yang menyala. Ada hal yang menyebabkan cinta itu tumbuh dan berkembang.

Ibnu Qayyim pernah mengatakan bahwa, “Cinta akan lenyap bersama lenyapnya sebab.” Ketertarikan dan rasa cinta antara seorang laki-laki dan perempuan, bisa hilang jika sebab-sebab yang bisa menumbuhkan rasa cinta itu hilang. Maka, Makhfum mukhalafah (makna kebalikan) dari kaidah ini adalah cinta bisa tumbuh karena ada sebab yang membuatnya jadi tumbuh.

Mengapa Jaka mencintai Mojang? Karena ada sebab yang menbuat Jaka jatuh cinta kepada Mojang. Ada asbab musabab yang menumbuhkan rasa cinta di hati Jaka. Pun demikian sebaliknya, Mojang mencintai Jaka, karena ada sebab yang membuatnya jatuh hati. Ada sebab yang membuat mereka jatuh cinta. Ada hal yang mebuat hati mereka terpaut dan saling mencintai satu sama lain.

Ada banyak sebab yang bisa membuat orang jatuh cinta. Misalnya, pernah melihat rupanya yang tampan atau cantic, terpesona oleh sikapnya yang baik, sopan santun dan ramah. Sering mendengar nama baiknya. Terpincut oleh karya-karyanya. Terpana dengan kepribadiannya. Sebab begini dan begitu. Sebab dan sebab. Dan masih banyak sebab yang lainnya. Sebab yang menumbuhkan rasa ketertarikan hati.

Mengapa kita mencintai Allah? Karena ada sebabnya Selain disebabkan oleh perintah-Nya yang ada pada QS. Ali ‘Imran (3) ayat 31 yang berbunyi:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan banyak yang menbuat kita (harus) mencintai-Nnya. Kita diberikan nikmat oleh Allah, nikmat yang tak terhingga banyaknya, tak terhitung jumlahnya, dimana disampaikan dalam QS. An-Nahl (16) ayat 18 yang berbunyi:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Masih banyak lagi seperti nikmat waktu, nikmat sehat, dan yang paling berharga adalah nikmat iman dalam dinul Islam.

Ini sebab yang menumbuhkan rasa cinta. Cinta kepada Allah adalah yang abadi, karena sebabnya juga abdi. Cinta kepada kekasih tidak akan abadi bila tidak disandarkan kepada yang Maha Abadi. Agar cinta kita abadi saling mencintai tak hanya sekedar di dunia saja, namun juga di akhirat yang abadi, maka harus disandarkan kepada Allah yang kekal dan abadi.

Ketika kita mencintai sesuatu, apapun yang ada di dunia ini, seperti pasangan, anak-anak dan harta kekayaan, semoga sebabnya abadi. Yakni cinta karena Allah yang harus jadi dasar untuk mencintai sesuatu. Niatkan cinta hanya karena-Nya Lillahi ta’ala.

Dalam mencintai niatkan pada-Nya.

Agar makna cinta tak tersia-sia.

Janganlah mencintai selain karena Allah.

Karena cinta pada-Nya itu mulia.

(Getaran Religius, “Hakikat Cinta”)

Bila cinta disandarkan kepada Allah, akan lahirlah cinta yang penuh makna. Cinta yang menggerakkan jiwa untuk berkarya nyata, untuk meraih prestasi dan menggapai ridha illahi. Cinta yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Cinta sejati diraih dengan menyandarkan sebab kepada Yang Maha Sejati. Cinta akan agung bila disandarkan kepada sebab yang Maha Agung. Kenapa ada asap, karena ada api yang menyala. Kenapa ada cinta, karena ada sebab yang menumbuhkan rasa cinta. Wallahu’alam.

Sumber: Al-Zanki, Jauhar. Agar Hati Tak Salah Mencintai.

Bahagia Ala Rasulullah

Oleh Hamsyari

Bahagia adalah suatu kebutuhan bahkan bagaikan tujuan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Kebahagiaan menjalani hidup di dunia dan di akhirat kelak. Namun, tidak semuanya dari kita dapat merasakan nikmat kebahagiaan yang sama, dewasa ini orang banyak menafsirkan bahagia itu harus mempunyai harta yang berlimpah ruah, rumah yang besar, mempunyai mobil dan sebagainya. Tetapi tidak sedikit juga dari kalangan yang miskin sudah merasa bahagia dengan kondisi yang tampaknya  sederhana saja bagi kaca mata orang kaya tetapi itu sangat membahagiakan.

Bagaimanakah kebahagiaan ala Rasulullah SAW saat menghadapi berbagai masalah dan ujian? Anas bin Malik ra. Menyampaikan cara Rasulullah saw mengatasi agar tidak bersangka buruk kepada Allah SWT dan tetap tenang saat melakukan sesuatu.

“Saya telah menjadi khadam Rasulullah SAW 10 tahun lamanya. Maka tidak pernah beliau berkata atas barang yang saya kerjakan, “mengapa engkau kerjakan?”. ‘mengapa tidak engkau kerjakan?  Tidak pernah pula beliau berkata pada barang yang tidak ada, “alangkah baiknya kalau barang itu ada”. Kalau pada suatu ketika terjadi perselisihan saya dengan ahlinya, dia berkata kepada ahlinya itu, “biarlah, sebab apa yang telah ditakdirkan Allah mesti terjadi.”

Memikirkan bunyi hadits yang diriwayatkan Anas itu, dapatlah dipikirkan pula apa artinya ridha, dapat diketahui hakikat dan dari mana timbulnya. Cobalah pikirkan hal ihwal Rasulullah itu. Dia sendiri, setelah sempurna makrifatnya dengan Tuhan Allah, tidaklah dia lupa bahwa Yang Maha Kuasa itu ialah Dia. Dia yang mentadbirkan, Dia yang menyusun, mengatur, dan alam ini terlingkung kita di dalamnya, berhaklah Dia bertaharruf, berbuat kesehendak hati-Nya di atas hak milik-Nya itu. (Hamka, 2015 : 303)

Nabi SAW. Penuh kepercayaan bahwa Tuhan bijaksana, tidaklah Dia menentukan satu keputusan di luar pertimbangan seadil-adilnya. Dia menyerah kepada-Nya, lebih daripada penyerahan budak kepada penghulu. Meskipun yang dijatuhkan atas dirinya, namun dia berubah tidak ; selangkah haram surut, setapak dia tidak kembali. Dia terima apa yang ada, tak mengaduh, tak merintih dan tak menyesal. Jika bukit teguh pada tempatnya, tiada bergoyang oleh bertumbuk angin dari segenap penjuru, maka keteguhan hati Rasulullah jika dihembus angin kehidupan, lebih dari teguhnya bukit, sebab jika gempa datang, bukit pun bergoyang juga.

Sebagai kesimpulan, manusia itu tidak boleh hidup tanpa mempunyai kepercayaan, mempercayai Tuhan yang dibesarkan dan dimuliakan, ditakuti dan ditumpahkan harapan kepada-Nya. Kalau dia tidak percaya kepada Allah dan tidak memuja kepada-Nya, nescaya dia akan memuja kepada selain Allah, disedari atau tidak. Siapa yang menyembah Allah, dia tidak akan memuja dan tiada akan tunduk kepada selain Allah. Degan demikian, kehidupannya sejalan dengan fitrah kemanusiaan, yang ditanamakan Tuhan dalam jiwanya. Oleh sebanb itu, dia memperoleh ketenangan dan ketenteraman dalam hidupnya. (Al-Qardawi, 2008 : 86)

Sumber:

Hamka (2015). Tasawuf Modern. Jakarta, Republika.

Al-Qardawi, Yusuf (2008). Iman dan Kehidupan. Selangor, Dewan Pustaka Fajar.

MANAQIB IMAM AHMAD: KISAH TUKANG ROTI PENDAWAM ISTIGHFAR

Dinukil dari Kitab Manakib Imam Ahmad, kisah inspiratif ini dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rah (murid Imam Sya fi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Di masa akhir hidup beliau bercerita “Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji dengan orang dan tidak ada hajat”.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju Kota Bashrah. Beliau bercerita, “Begitu tiba di sana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat”.

Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin istirahat sejenak di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Kamu mau ngapain di sini, Syaikh?” (Kata “Syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh di kisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot tahunya sebagai orang tua).

Marbot tidak tahu kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, lantaran beliau adalah seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab “Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid!”.

Imam Ahmad bercerita “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”

Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi Syaikh?” Kata marbot. “Mau tidur, saya musafir.” Kata Imam Ahmad.

Lalu marbot berkata, “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong sampai jalanan.

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “Mari Syaikh, anda boleh menginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.

Kata Imam Ahmad “Baik.” Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau Imam Ahmad mengajak bicara maka dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“.

Saat memberi garam, ia ucap “astaghfirullah“. Saat memecah telur, ia ucap “astaghfirullah“. Saat mencampur gandum, ia ucap “astaghfirullah“. Dia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu Imam Ahmad bertanya “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “Sudah lama sekali Syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

Imam Ahmad bertanya “Maa tsamarotu fi’lik?” (Apa hasil dari perbuatanmu ini?). Orang itu menjawab “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah….,langsung diwujudkan.

Nabi SAW pernah bersabda “Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizqi dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”.

Lalu orang itu melanjutkan “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri. Imam Ahmad penasaran lantas bertanya “Apa itu?” Kata orang itu, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir “Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu. ”

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad.

Inilah buah dari istighfar. Yuk sahabat muslim, kita perbanyak istighfar.

Berbesar Hatilah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sahabat muslim, kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu orang dengan yang lainnya dari bangun tidur sampai tertidur kembali. Namun dengan interaksi tersebut, tanpa kita sadari, kita melakukan kesalahan baik yang kita sengaja maupun tidak disengaja, baik secara lisan maupun perbuatan.

Sehingga dengan hal ini dapat menyebabkan orang lain menjadi terluka bahkan sakit hati. Sehingga tanpa mereka sadari, orang lain tersebut apabila memiliki hati yang besar, maka ia tidak akan membalas kesalahan kita. Namun apabila seseorang telah terbawa oleh hawa nafsu marah, maka ia akan mencoba untuk membalasnya, baik secara perkataan dan perbuatan. Bahkan perbuatan yang paling fatal dan sering ditemui adalah membunuh.

Perbuatan ini sering ditemui di mana saja di berbagai tempat. Banyak kejadian pembunuhan dikarenakan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Di dalam Islam sendiri, tidak dianjurkan untuk saling membunuh antar umat karena membunuh termasuk dosa besar.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:” Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina.” (HR. Al-Bukhari, No. 2615, 6465, dan Muslim, No. 89).

Hadits di atas menjelaskan bahwa membunuh merupakan kegiatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT dan pasti akan masuk ke dalam neraka kekal abadi. Naudzubillah. Mari Sahabat muslim, kita menjaga amarah dan emosi kita apabila mendapatkan perlakuan dari orang lain yang kurang sesuai dengan keinginan kita, maka kita harus berbesar hati dan selalu meminta kesabaran kepada Allah SWT. Apabila akan melakukan suatu perbuatan, maka kita juga harus berpikir berulang-ulang apakah perbuatan yang akan kita lakukan berdampak baik atau buruk kepada diri kita sendiri maupun kepada orang lain.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.